Bolehkan Solar Cell di Indonesia ?

Kesungguhan pemerintahan saat ini dengan mengedepankan green energy masih jauh dari harapan rakyat indonesia.

Contoh sederhana saya melihat running text pada televisi kira-kira 1 minggu yang lalu, dimana diberitakan bahwa Pemerintah pertimbangkan insentif bagi pengguna panel surya! Tetapi justru berbalik dengan yang saya alami, yaitu meteran PLN yang baru justru sangat tidak mendukung pengguna solar cell sistem grid tie (baca Meteran PLN Anti Green Energy).

Solar Cell

Bagaimana rakyat mau bergiat mempunyai listrik sendiri bahkan membantu pemerintah jika meteran listriknya saja anti dengan sistem solar cell?

Saat ini bagi saya, yang diperlukan rakyat adalah meteran yang normal, yang support dengan solar cell bersistem grid tie (justru meteran jaman dulu), dan saya pribadi siap jika ada kelebihan produksi listrik dari saya dan jika ternyata PLN belum siap membayar kelebihan support listrik dari saya, maka saya siap tidak menerima pembayaran dari kelebihan produksi listrik dirumah saya.

Antisipasi PLN menggunakan meteran anti mundur (tambahan fitur) adalah berlebihan jika pertimbangannya sebagai anti pencurian listrik. Sebab saya yakin sangat jarang masarakat mencuri listrik dengan methode membalikkan arah sehingga meteran menjadi mundur. Mengapa saya yakin? Karena sistem seperti ini tidak efektif, tidak bebas perawatan bagi pencuri, harus diingat kapan di normalkan dan kapan dimundurkan.
Lah…kalo kelupaan, tukang periksa listrik datang dan posisi meteran lagi mundur…yaah ketauan….

Jadi umumnya orang mencuri listrik itu langsung tancep aja disuatu titik, dan listrik curian tersebut diamankan atau disembunyikan untuk peralatan yang menggunakan watt besar, artinya ada colokan spesial yang siap digunakan oleh pencuri listrik, yang setiap saat siap digunakan.

Jika ada sama-sama pemakai solar cell sistem grid tie di indonesia, tentu yang diinginkan terlebih dahulu adalah:

Dari Nomer 1: Rakyat maunya menghemat listrik dengan solar cell terlebih dahulu, masih jauh untuk bisa impas saat ini dengan memakai sistem solar cell grid-tie, aritnya bayaran listrik menjadi berkurang.

Meningkat ke Nomer dua: yaitu impasnya antara pemakaian solar cell dan sumbangan ke PLN, artinya bayaran listrik ke PLN jadi NOL.

Meningkat ke Nomer tiga: Ini masih sangat jauh terjadi pada rakyat kita, dimana nanti jika solar cell sudah sangat murah pada akhirnya justru rakyat yang banyak menyumbangkan Listriknya ke PLN.
Dengan opsi nomer tiga ini, artinya listrik dari rakyat baik itu dari solarcell (tenaga matahari) atau angin, justru banyak menyumbang, artinya ada kelebihan pemakaian dari rakyat yang otomatis disumbangkan ke PLN, dimana sistem seperti ini masih banyak memakan biaya dan kebanyakan rakyat masih berat untuk mencapai hitungan seperti ini.

Dimana untuk bisa menyumbang atau terjadi kelebihan pemakaian, setidaknya dibutuhkan 3x dari kapasitas pemakaian dirumah, misalnya dirumah 1000W, maka setidaknya rakyat membangun 3000W pembangkit solar cell agar terjadi kelebihan.

Mengenai Berita Pemerintah pertimbangkan insentif bagi pengguna panel surya, dapat dibaca dibawah ini:

Jakarta (ANTARA News) – Direktur Aneka Energi Baru Terbarukan Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Alihudin Sitompul mengatakan pemerintah mempertimbangkan pemberian insentif bagi pengguna panel surya, guna mendorong terbentuknya kemandirian energi di masyarakat.

“Pemerintah memang seharusnya beri insentif seperti pengurangan PPh, PBB, atau subsidi awal saat beli. Ini sedang digodok di internal kita, tapi kita belum dapat harga per Watt peak,” kata Alihudin Sitompul di Jakarta, Jumat.

Kementerian ESDM, menurut dia, memang sedang mendorong penggunaan panel surya rooftop yang kapasitasnya cukup besar hingga lebih dari 1.000 Watt.

Pemerintah mencoba untuk mengubah konsep berpikir masyarakat, terutama kalangan atas, bahwa mereka yang disebut kaya itu yang sudah mandiri energi. Dengan memasang panel surya di atap rumah mereka artinya mereka mampu menghasilkan energi sendiri dan tidak lagi mengandalkan subsidi listrik dari pemerintah.

“Jadi nantinya mereka yang sudah punya Porsche, Ferrari, Jaguar, Bentley belum bisa disebut kaya kalau belum mampu menghasilkan energi sendiri. Orang yang mandiri energi itu yang ke depan bisa disebut kaya,” ujar Alihudin.

Karena itu untuk mendorong munculnya masyarakat yang mandiri energi ini, ia mengatakan kementeriannya sedang memikirkan insentif yang pas.

“Kebanyakan negara memang insentifnya berupa potongan PPh, tapi kalau di sini mungkin PBB yang pas. Kalau rumahnya di Menteng kan terasa sekali kalau potongannya bisa sampai Rp8 juta, kalau di Bekasi sih mungkin tidak seberapa,” ujar dia.

Meski demikian dengan harga untuk panel surya dengan baterai sekitar 2,5 sen dolar AS hingga lima sen dolar AS per Watt peak masih lebih tinggi jika dibanding membeli listrik dari PT PLN yang disubsidi.

“Untuk operasi sampai 20-25 tahun harga tersebut memang masih di bawah harga listrik PLN yang pemerintah subsidi, tidak heran kalangan kelas atas pun masih memilih yang subsidi. Makanya di masa depan itu orang yang disebut kaya itu jelas yang bisa mandiri energi,” ujar dia.

Terlepas dari semua permasalahan diatas, jika saat ini rumah anda belum memiliki sumber listrik dari Bio Solar maupun PLN sebaiknya anda tidak perlu bingung. Jaman semakin modern, industri alat berat semakin berkembang. Hal itu dibuktikan dengan adanya mesin genset Cummmins yang bisa memberikan sumber energi listrik di rumah anda. Mengenai harga tentunya bisa di sesuaikan ddengan budget. Info lebih jelas mengenai harga genset cummins 50 kva dan detail produk, silahkan hubungi langsung penjualnya.

Tags: