INDONESIA, NEGARA DENGAN RENCANA INFRASTRUKTUR TERBESAR

Indonesia, yang terdiri dari ribuan pulau vulkanik, memiliki luas wilayah sekitar 1,9 juta km², dan perekonomiannya yang terbesar di Asia Tenggara. Menjadi salah satu ekonomi pasar yang sedang berkembang di dunia, Indonesia, yang merupakan rumah bagi banyak kelompok etnis yang berbicara dalam berbagai bahasa berbeda, adalah anggota G-20 dan dikatakan memiliki ekonomi terbesar ke-16 di dunia dengan produk domestik bruto (PDB) nominal dan yang ketujuh terbesar dalam hal PPP (purchasing power parity). Menurut Bank Dunia, Indonesia sekarang ini berada di peringkat empat pada daftar negara berpenduduk paling banyak di dunia, dengan leih dari 260 juta penduduk. Negara ini dikatakan masih bergantung pada pasar domestik dan belanja anggaran pemerintah serta perusahaanperusahaan milik negara (pemerintah pusat memiliki 141 perusahaan), sedangkan pengaturan harga berbagai barang kebutuhan pokok memegang peranan penting dalam ekonomi pasar Indonesia.

RENCANA INFRASTRUKTUR TERBESAR

Sejak tahun 1990-an, dilapor kan bahwa 80% perekonomian Indonesia telah dikendalikan oleh perusahaan-perusahaan swasta domestik dan perusahaanperusahaan asing, dan memang banyak tambang besar dan operator tambang beroperasi di Indonesia de ngan menggunakan peralatan dari produsen-produsen terkemuka. Philip Barker dari Cavendish Corporate Finance menilai pembelian Wirtgen Group (Jerman) senilai US$5,2 miliar baru-baru ini sebagai kesepakatan strategis yang akan semakin melengkapi penawaran peralatan konstruksi Deere yang ada dan memperkuat posisinya sebagai pemimpin pasar di industri pembangunan jalan. “Akuisisi ini akan memungkinkan Deere memperluas distribusi global dan meningkatkan kemampuan di pasar negara berkembang, termasuk China, Indonesia dan Nigeria,” kata Barker. “Dengan latar belakang belanja infrastruktur global yang me- ningkat, perusahaan-perusahaan dapat melakukan akuisisi strategis jangka panjang seperti ini, dan waktu untuk menekan tombol pada kesepakatan ini mungkin telah ditopang oleh nilai dollar yang relatif kuat terhadap euro selama beberapa bulan belakangan.” Dan Indonesia adalah negara dengan rencana belanja infrastruktur yang besar. Diperkirakan lebih dari US$1.000 miliar diperlukan untuk belanja infrastruktur sampai tahun 2030, dengan sektor konstruksi Indonesia menyumbang sekitar 10,6% terhadap PDB pada tahun 2017.

Awal 2017, Bank Dunia menerbitkan laporan “Indonesia Economic Quarterly, Sustaining Reform Momentum” yang menyebutkan bahwa ekonomi Indonesia telah melewati volatilitas keuang an global baru-baru ini dan berada pada posisi yang baik untuk memitigasi risiko-risiko masa depan terhadap prospek pertumbuhannya berkat fundamental ekonomi yang sulit dan reformasi kebijakan. Termasuk di komposisi belanja pemerintah yang rendah dan stabil; pertumbuhan konsumsi swasta berjalan dan utang pemerintah yang semuanya membaik.

Bank Dunia mengaitkan hal ini dengan risiko-risiko prospek pertumbuhan ekonmi Indonesia: volatilitas keuangan yang terus berlanjut ditambah dengan lambannya perdagangan dan pertumbuhan yang lemah di negara-negara maju; pertumbuhan ekonomi China yang terus mengalami perlambatan, dan ketidakpastian kebijakan global, terutama mengenai kesepakatan perdagangan global dan laju normalisasi suku bunga di AS. Laporan Bank Dunia menyatakan proyeksi-proyeksi pertumbuhan GDP masih tetap tidak berubah dari laporan Oktober 2017: 5,1% untuk 2016 dan 5,3% pada 2017, sementara pertumbuhan yang makin kuat pada tahun 2017 didorong oleh meningkatnya investasi swasta dan menyusul pelonggaran moneter pada tahun 2016 dan reformasi iklim investasi yang terus berlangsung. “Indonesia termasuk di antara sepuluh besar negara di dunia yang melakukan perbaikan menurut laporan ‘Doing Business’ tahun ini. Peringkat Indonesia meningkat dari 106 pada 2016 menjadi 91 pada 2017, khususnya untuk tujuh reformasi yang terkait dengan kemudahan dalam melakukan bisnis, mendapatkan listrik, membayar pajak, mendaftarkan properti, mendapatkan kredit, menegakkan kontrak dan melakukan perdagangan lintas batas,” kata Bank Dunia.

Laporan Bank Dunia itu menyebutkan bahwa mengingat anggaran, mekanisme utama Pemerintah Indonesia untuk mencapai tujuan-tujuan pembangunan jangka pendek hingga menengah adalah dengan meningkatkan kualitas belanja publik. Hal ini memerlukan dua tindakan terpisah. Pertama, mengalokasikan kembali pengeluaran untuk sektor-sektor prioritas di mana pengeluaran publik rendah dan pengeluaran tambahan bisa berdampak besar terhadap kemiskinan dan pertumbuhan (seperti di bidang infrastruktur, kesehatan dan bantuan sosial), serta menjauh dari bidang-bidang yang berdampak kecil pada produktivitas, seperti berbagai subsidi dan belanja pegawai. Kedua, mengalokasikan kembali pengeluaran di sektor-sektor (terutama di bidang pertanian dan pendidikan) ke sektorsektor yang memiliki dampak sangat besar terhadap tujuan- tujuan sektoral.

Menguraikan laporannya, ‘Quarrying of Stone, Sand and Clay in Indonesia: ISIC 14’ , Euromonitor International menyatakan bahwa industri penggalian batu (quarry), pasir dan tanah liat diperkirakan akan tumbuh di kisaran 10% sepanjang 2016-2021, karena berkembangnya industri konstruksi dan semen, yang dipacu oleh rencana pembangunan infrastruktur pemerintah yang ambisius. “Salah satu pemain utama industri quarry, PT Citatah Tbk, menginvestasikan Rp 25,0 miliar selama 2016-2017 untuk penambahan kapasitas yang meningkatkan omsetnya,” kata Euromonitor International. Lembaga ini juga menyebutkan bahwa omset produk-produk semen, batu dan keramik tumbuh sebesar 8,2%, yang didorong oleh meningkatnya permintaan semen, sementara pasar quarry, pasir dan tanah liat Indonesia tumbuh sebesar 15% pada tahun 2016, didukung oleh insentif-insentif pemerintah untuk pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan berkelanjutan dalam pembangunan perumahan yang dilengkpai oleh generator set untuk rumah.

Bilamana anda membutuhkan perkakas dengan kapasitas kecil untuk sektor rumah, lihat saja pilihanya di https://rajawaliindo.co.id/jual-genset-di-jakarta/

Tags: