Kesan Pertama Kali Datang Ke Kota Mode Paris

Mungkin seperti banyak orang lainnya, aku sudah mempunyai imajinasi tertentu mengenai Paris. Konon ini adalah kota yang cantik dan romantis. Selain itu, terkait dengan bidang studiku sekarang, terbayang kota ini adalah tempat di mana orang duduk-duduk di cafe-cafe sambil ngobrol hal-ihwal filosofis. Sebagai kota yang tekenal dengan perkembangan modeling yang sangat pesata. Merupakan pusat peradaban perkembangan dunia pergaunan dan trend-trend yang bisa mewarnai perkembangan fashion dunia

Akan tetapi, tidak menunggu lama setelah menjejakkan kaki, segera impresi tersebut sirna. Kota ini tidak ubahnya seperti kota-kota besar dunia lainnya. Gedung-gedung tua memang eksotis, tetapi sebagian besar adalah tempat jualan barang yang bisa kau temukan di manapun juga.Perawatannya pun terkesan sangat apa adanya. Walaupun agak jauh dengan perkembangan dan penataan kota di negri sendiri namun di Indonesia saat ini service publik bisa di lihat sangat bagus. Salah satu contoh di kota kelahiran saya di Surabaya. ATau bisa juga melihat tempat wisata yang saat ini banyak di kunjungi wisatawan luar negri seperti gunung bromo.

Tentang filsafat, ada satu hal yang cukup mengejutkanku. Dikira di kota ini postmodernisme menduduki tempat yang kuat, tetapi ternyata sebaliknya. “Itu produk Amerika Serikat. Di sini kami mempelajari Descartes, Kant, dan Hegel. Tidak ada yang bicara postmodernisme, kecuali kritikus mabok di pinggir jalan”, kata seorang Perancis berbicara kepadaku di apartemennya yang penuh buku abad ke-19 di sekitar Gere de I’Est.

Paris juga adalah kota yang lumayan jorok. Bau kencing dan tai manusia tercium kuat di stasiun-stasiun metro, khususnya di pagi hari. Para gelandangan tidur di sana. Tetapi bahkan di pinggir jalan pun, ketika hari beranjak gelap, dua kali aku melihat laki-laki kencing begitu saja di pinggir gedung berasitektur barok. Bahkan untuk buang air besar terkadang para gelandangan atau imigran gelap itu sangat luar biasa dan saya tidak dapat menceritakan dengan bahasa khusus. Silahkan bayangkan sendiri.

Benar kata pepatah; masalahnya bukan di mana tetapi bersama siapa kamu di sana. Dari sudut pandang seorang lelaki asing yang sendirian dan belum kenal banyak orang, Paris adalah kota yang tidak impresif. Mungkin cerita akan berbeda jika aku bersama kamu di sana, ya betul, bersama kamu

Tags: