Wajah Baru Bandara Soekarno Hatta

Sejak beroperasi pertama kali di tahun 1985, kehadiran Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) membuka peluang bagi industri pariwisata dan bisnis di Indonesia, khususnya Jakarta. Sejatinya, dengan perkembangan ekonomi yang semakin meningkat, fasilitas bandar udara harus turut mengimbanginya. Dengan area yang lebih besar, Terminal 1 dan Terminal 2 Bandara Soetta menjadi bandar udara utama di Indonesia serta menggantikan fungsi Bandar Udara Kemayoran dan Halim Perdanakusuma.

Wajah Baru Bandara Soekarno Hatta

Desain sebuah bandara harus merepresentasikan kultur dari negara itu sendiri. Walaupun dulu Bandara Soetta dirancang oleh Paul Andreu, arsitek asal Prancis, namun jati diri negara seribu pulau ini tetap terasa nyata. Menjamu ramah dengan konsep pedesaan Jawa dan paviliun terbuka serta dikelilingi oleh lansekap tanaman tropis yang teduh. Didirikan secara bertahap, Terminal 2 akhirnya selesai didirikan pada tahun 1992 dengan rupa yang seragam dengan Terminal 1. Tepat pada bulan Agustus tahun lalu, bandara di Cengkareng ini diramaikan oleh grand opening Terminal 3 yang total luas areanya mencapai 42 hektar.

Hingga kini, fasilitas transportasi seperti MRT dan Skytrain masih dalam tahap pembuatan untuk mengakomodasi pengunjung yang diharapkan bertambah hingga dua kali lipat per tahunnya. Dari segi desain, Terminal 3 tampak lebih modern dibanding Terminal 1 dan 2, berkat lapisan kaca dan bentuk ergonomis yang mengelilingi seluruh badan bangunan. Untuk mengimbangi lingkungan bandara yang semakin terdepan dan mutakhir, Terminal 2 akhirnya siap diremajakan. Kali ini Angkasa Pura mempercayai desainer serta arsitek lokal untuk merevitalisasi Terminal 2, yaitu Elenbee Dwi Pranata dan Arkonin. Secara signifikan, luas lahan 580.000 meter persegi yang dapatmenampung 19 juta pegunjung per tahun akan ditambah menjadi 700.000 meter persegi untuk 41 juta penumpang per tahun. Konsep desain interior akan sepenuhnya berubah menjadi tropis serta dilengkapi oleh berbagai signage sebagai wayfinding.

“Headline pertama dari revitalisasi ini adalah desain bandara Soetta akan mengikuti 90% dari standar internasional. Sistem dan desain di bandara kita ini telah tertinggal hampir 30 tahun dengan negara-negara berkembang lainnya, sedangkan seharusnya sebuah bandara direnovasi setiap lima tahun sekali. Akan ada banyak perubahan, baik dari fasilitas maupun modernisasi layout dan desain,” papar Lea Aziz selaku principal Elenbee Dwi Pranata. Kami juga sudah menyiapkan genset dengan daya besar sebagai penyuplai cadangan listrik, mesin ini didapatkan dari tempat jual genset di jogja.

Konsep dan rencana desain telah dimulai sejak akhir tahun 2015. Arsitektural bangunan tetap dipertahankan demi mengapresiasi master piece yang telah memenangkan Aga Halaman kiri (searah jarum jam): Peron Railink untuk kereta rute Bandara soekarno-Hatta ke sudirman dan Manggarai.

Security area di Terminal 2F yang dikhususkan untuk haji plus dan umroh; Baggage carousel dengan sentuhan flora.Khan Awards for Architecture 1995 ini. Berangkat dari rasa kebanggaan ini, Terminal 2 akan menghadirkan sebuah museum seluas 220 meter persegi yang menceritakan sejarah didirikannya Terminal 1 dan 2. Hasrat, nafas, dan rupa yang telah tergelar selama 30 tahun rasa layaknya diberi penghormatan tinggi. Dewasa ini, dikarenakan kemacetan yang tidak dapat diprediksi, penumpang cenderung datang lebih dini dari jadwal penerbangannya. Membaca kebiasaan ini serta gaya hidup yang semakin meningkat, commercial area akan ditambah.

“Kami ingin membuat bandara ini terasa semakin nyaman, maka kami hadirkan mal kecil untuk menemani penumpang saat menunggu,” lanjut Lea.

Terminal 2 tetap akan memiliki tiga sub-terminal yaitu D, E, dan F. Terminal 2D dan 2E didedikasikan untuk penerbangan domestik bagi beberapa airlines, seperti casa 53 Citilink, Sriwijaya, Air Asia Indonesia, Batik Air, dan Nam. Sedangkan 2F akan diperluas dan difokuskan untuk lounge, haji plus, umroh, serta masjid di lantai tiga berkapasitas 2.000 orang. Revitalisasi Terminal 2 rencana akan dimulai pada awal tahun 2018 dan selesai pada tahun 2020. “Tentu kita tidak bisa menghentikan operasional bandara ini, sehingga renovasi akan dilakukan secara bertahap, mulai dari Terminal 2F,” kata Lea menutup wawancara.

Selain Terminal 2, Elenbee Dwi Pranata juga merancang interior Railink, sebuah stasiun kereta untuk rute Bandara Soekarno-Hatta ke Sudirman dan Manggarai. Konsep desainnya memiliki benang merah dengan Terminal 2, yaitu sentuhan heritage Indonesia dan tropis. Selain itu, sebanyak 86 bandara di seluruh Indonesia direncanakan akan dibangun mulai akhir tahun 2017 hingga tahun 2025.

Tags: